ORCHID Blog

April 10, 2009

Mulyo Asri, Tulang Bawang Tengah

Filed under: Lampung — Tags: , , , , , , , — krisna @ 11:45 PM

Browsing-browsing eh ketemu 1 post tentang Mulyoasri, Desaku di Lampung, tapi kok ada Nelayan yah.. perasaan Mulyo asri gak ada laut deh… ketok lek ngapusi

Pelatihan Internet bagi Petani dan Nelayan di desa Mulyo Asri

Pelatihan Internet bagi Petani dan Nelayan di desa Mulyo Asri Kecamatan Tulang Bawang Tengah pada tanggal 9 Januari 2008. Acara pelatihan internet dihadiri para petani dan nelayan, serta dihadiri oleh para pejabat Tulang Bawang.

tspeedy2

Gak Ono Sing Kenal

Eddy Gombloh

Eddy Gombloh

(more…)

March 23, 2009

BMD Dimanakah Engkau??

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , , , , — krisna @ 9:28 AM

Sebuah Comment dari post Pencanangan Bintang Musik Daerah membuat saya turut prihatin atas apa yang terjadi apa yang dialami oleh rekan-rekan kita kontingen BMD dari Nusa Tenggara Barat.  Berikut isi comment yang rekan-rekan kita postingkan melalui comment.

Kami dari kontingen NTB [ Nusa tenggara Barat ] yang lolos masuk grand final, sangat kecewa terhadap kegiatan ini tidak terlaksana dan beberapa janji penyelenggara yang menelantarkan sekitar 13 kontingen dari 13 propensi lainnya . Harapan untuk tampil pupus sudah …..

Kronologisnya :
18 maret 2009, tidak ada kejelasan mengenai tiket pesawat ke bali yang dijanjikan oleh panitia sehingga tidak sampai-sampai ketangan kami [ dari pihak panitia terus mengatakan tiket sudah di urus oleh travel ], akhirnya kami memutuskan memakai dana pribadi berangkat lewat darat mengunakan Kapal fery [ Lembar - padangbai ].

Sekitar pukul 9 malam Kami menghubungi pihak panitia kembali yang diterima oleh Ibu ossie [ BMD ] , kemudian dari panitia kami di arahkan ke Hotel Lavender [ nusa dua bali ] namun setelah konfirmasi, pihak hotel menyatakan tidak ada bokingan atas nama Lombok Kundalini [ nama group kontingen NTB ].

Sekitar jam 2 pagi 19 maret 2009 kontingen sampai di Padangbai [ bali ] .. karena bokingan di hotel Lavender tidak ada list nama kami , kami memutuskan untuk menginap di candi dasa (pelangi cave resort) sebelum berangkat menuju BICC Bali dengan harapan disana bisa ketemu pihak panitia BMD. Sekitar jam 6 pagi kita menuju nusa dua menggunakan travel , dengan perjalanan 2 setengah jam kami sampai di nusa dua, Kecurigaan muncul ketika tak satupun dari pihak panitia yang ada di BICC BALI. Kemudian kami memutuskan tetap menunggu perkembangan sampai pukul 10 siang,kontingen mengambil inisiatif untuk bertemu dengan kontingen lain yang menginap di hotel Lavender.

Di hotel Lavender ternyata ada 2 kontingen lain [Makasar dan Kalimantan Barat], mereka juga mengalami keadaan yang sama dengan kami, mereka juga baru tiba dari airport ngurah rai tanpa dijumpai panitia dan biaya hotel ditanggung sendiri oleh peserta sehingga mereka menggurus kekantor dinas pariwisata denpasar, kami menggambil keputusan bersama untuk bertemu kembali tanggal 21 di Hotel Westin BICC Nusa dua.
(more…)

March 14, 2009

Versalite Dot Com Resmi Jualan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , , , , — krisna @ 1:04 AM

versaliteAkhirnya setelah lama malas untuk menekuni bisnis jualan domain.. akhirnya ngikut juga sekarang jualan domain & hosting.

Untuk reseller domain, sebelumnya saya masih menggunakan http://www.openprovider.nl but too…expensive… memang kapan bisa untung kalau mahal, kalau dijual di Amsterdam ok, Wong Londo Bodo-bodo hehehe lirik Sander hahahaha.

Setelah mikir-mikir masalah harga… trus punya duit 300 ribu akhirnya diputuskan pake Uk2Group sebagai vendor penyedia jasa domain services, untuk harganya silahkan lihat harga-harga Versalite Domain . Murah gak?? Kayaknya sih masih mahal hehehe.. dasar orang indonesia…

Untuk hosting, belum dibuat paketnya walaupun sudah ada beberapa teman yang sudah jadi client, maklum jualannya juga di Warung Kopie Genset UC makanya gak banyak yang register. Oh ya hosting Versalite menggunakan koneksi Harlem, Amsterdam tepatnya LeaseWeb dan hardware yang masih ecek-ecek… cuman pake  Sun Fire X4140 Server hardwarenya bukan beli dari LeaseWeb tapi langsung beli dari Sun Microsystem, jadi istilahnya colo getho loch. Untuk harga…. dikompare dengan hosting Indonesia yang notabene banyak dedicated di US ya jauh lebih mahal.. tapi ethernet gak dilimit 10Mb kaya kebanyakan dedicated server di US. Kalau mau running Gigabit ya monggo tergantung hardware yang di colocation.

Logo Versalite belum ada, masih minta tolong Om Yokhanan buat design.. maklum namanya seni-seni-an ampun deh nyerah abis…

Ya wis lah… kalau ada yg mau order monggo-monggo saja, kirim private message via YahooID : vnlru.  Hehehe jualan mah nyantai saja… mau laku ya sukur.. gak laku ya… buat senang-senang saja…
Banner:
Jangan Diklik Promo Jualan Hosting/Domain Murah…!!!! Eh Mahal..
Jangan diKlik Promo Jualan Domain/Reseller Domain MAHAL…

February 16, 2009

The Lost Year Of Jesus

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — krisna @ 11:26 PM

THE LOST YEARS OF JESUS:
DIMANAKAH YESUS BERADA KETIKA BERUSIA 12-30 TAHUN?

DR. K.A.M. Jusuf Roni

Part 1
“Masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Yesus. Andaikata semuanya itu ditulis satu per satu, saya rasa tak ada cukup tempat di seluruh bumi untuk memuat semua buku yang akan ditulis itu.” (Yohanes 21:25)

Keempat periwayat Injil hanya menceritakan kehidupan Yesus ketika Ia
dilahirkan (Matius 1:18-25; Lukas 2:1-7), disunat pada usia 8 hari dan
diserahkan di Bait Allah (Lukas 2:21-40), pemunculan-Nya kembali di tempat Bait Allah yang sama pada umur 12 tahun (Lukas 2:41-52), dan penampilan diri-Nya di depan umum setelah dibaptiskan oleh Yohanes, “ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira 30 tahun” (Lukas 2:23). Jadi, ada “waktu kosong” (the silent period) selama 18 tahun, antara usia 12 sampai 30 tahun. “Kekosongan” ini (minimal kalau kita mengikuti pikiran itu), telah menyebabkan banyak penulis mencoba mengisinya menurut tuntutan kepentingan mereka.

Dari abad ke abad, khususnya setelah zaman Rasuli yang dimulai pada akhir abad ke-2 Masehi, berbagai spekulasi mulai berkembang. “Kisah-kisah lancung” inilah yang akhirnya menjadi tulisan-tulisan apokrifa dan pseudographa. Literatur ini banyak dijadikan rujukan oleh ahl al-bid’ah (heresy). Contoh-contoh tulisan apokrif ini misalnya Injil al-Tufuliyah (Arabic Gospel of Infancy) yang berasal dari abad ke-7 Masehi. Dalam buku ini dikisahkan bahwa Yesus dapat berbicara pada waktu bayi ketika Yesus sedang digendong Maryam, ibu-Nya. “Ana huwa Yasu’a Ibn Allah” (Akulah Yesus, Putra Allah), kata bayi Yesus kepada ibu-Nya, “alladzi walidati kamma basyiruki Jibril al-Malak wa atta arsalni lil khalash al-’alam” (yang dilahirkan sebagai berita gembira dari malaikat Jibril kepadamu dan aku diutus untuk keselamatan dunia).

Selanjutnya, berita Injil Matius 2:13-15 mengenai pelarian ke Mesir, dalam Injil Palsu Matius (Pseudo-Gospel of Matthew) yang berasal dari abad ke-5 Masehi, dikembangkan menjadi kisah-kisah ajaib berlebih-lebihan, pohon palma yang membungkuk menuruti perintah kanak-kanak Yesus untuk mengeluarkan buahnya dan air segar yang memancar dari bawah pohon itu. Demikian pula, kisah-kisah ajaib mengenai remaja Yesus yang membuat burung dari tanah liat, dimuat dalam The Gospel of Thomas (Injil Thomas) berbahasa Yunani yang berasal dari abad ke-3 Masehi. Kisah-kisah ini sangat populer di kalangan sekte-sekte heretik Kristen di tanah Arab menjelang dan pada saat kelahiran Islam.

Part 2

THE DEAD SEA SCROLLS:
MENCARI JEJAK YESUS DI GUA-GUA WADI QUMRAN

Sejak tahun 1947, setelah menemukan manuskrip-manuskrip Laut Mati, para ahli sibuk mengaitkan dengan sejarah Kekristenan awal. Menurut kesepakatan para ahli yang terkenal, gua-gua lautan mati menyimpan bukti sejarah orang-orang eseni (Essene).

Menurut James H. Charlesworth, komunitas Qumran dimulai kira-kira tahun 150 SM, dan berakhir ketika tentara Roma menghancurkan tempat ini tahun 68 M. Dan dari 11 gua yang dihuni oleh orang-orang Qumran, para penghuni Qumran meninggalkan bagi kita naskah-naskah kuno, termasuk teks-teks Alkitab Perjanjian Lama, yang sebagian besar tertulis dalam bahasa Ibrani/Arami dan sebagian kecil sisanya berbahasa Yunani (khususnya gua 7). Manuskrip terkuno dapat ditentukan berasal dari tahun 250 SM, jadi 100 tahun sebelum manuskrip itu dibawa oleh penghuni Qumran dalam tempat-tempat pengungsiannya. Pada awal penemuan naskah-naskah ini, dunia ilmu pengetahuan seperti tersentak. Lebih-lebih, apabila ketika para ahli sedang mencari-cari 18 tahun kehidupan Yesus yang tidak dikisahkan dalam Pejanjian Baru. Hal ini tampak dari judul buku Charles Francis Potter, The Lost Years of Jesus Revealed. Jadi, banyak orang harap-harap cemas dengan penemuan terbesar abad ke-20 tersebut, secara khusus dalam usaha mencari “benang merah” dengan sejarah Kekristenan mula-mula. “Dalam banyak segi”, tulis Duport Summer, “Tuan (Master) Galilea itu tampak sebagai seorang reinkarnasi Guru Kebenaran dari Qumran yang sangat mencengangkan”. Sedangkan Potter, sambil mengemukakan teorinya bahwa kaum Eseni Qumran adalah “ibu dari Kekristenan”, secara lebih bombastis lagi menulis:

Dan sekarang setelah terbukti bahwa sejarah Kekristenan dapat ditemukan dalam masyarakat yang disebut Perjanjian Baru (B’rit ha-Hadasah) yang biasa disebut Eseni. Masalah penting yang menantang seluruh dunia Kristen ialah, apakah seorang anak akan mempunyai keperwiraaan, keberanian dan kejujuran untuk mengakui dan menghormati ibunya sendiri.

Robert Einseman, salah seorang dari sarjana peneliti Qumran yang sangat liberal, menunjukkan bahwa banyak petunjuk yang dengan jelas menghubungkan Qumran dengan Kekristenan awal. Einseman berangkat dari fakta bahwa Kekristenan Yahudi awal di Yerusalem disebut Notzrim (im bentuk jamak), yang menunjuk komunitas “pengikut Yesus, orang Nazaret” (Kisah Para Rasul 24:5; Matius 2:23). Akan tetapi Robert Einseman menghubungkan nama Kekristenan awal ini dengan istilah Ibrani “notseri” (yang memelihara). Jadi, cocok dengan komunitas Qumran yang juga disebut “Notzeri ha-Berit” (yang memelihara Perjanjian).

Selanjutnya, Einseman juga mengemukakan fakta tentang adanya komunitas Kristen Yahudi pada abad ke-2 Masehi di Jabal Fahin (Yunani: Pella), seberang Yordan, yang disebut “Ebionit”. Karena istilah ini berasal dari bahasa Ibrani Ebiyon (orang-orang miskin), maka cocok dengan identitas jemaat Yerusalem sendiri (Galatia 2:10).

Data-data ini oleh Einseman ditafsirkan sedemikian rupa, sehingga
terbangunlah teorinya yang menganggap bahwa Guru Kebenaran (Moreh hassadeq) yang disebut dalam naskah-naskah Qumran itu adalah Yakobus, saudara Yesus yang juga digelari Ha-Tsadiq (Yang Benar) dalam Gereja kuno. Sedangkan 2 tokoh lain yang juga disebut-sebut dalam naskah Qumran adalah Imam yang jahat, yang oleh Einseman ditafsirkan Kayafas dan Pendusta adalah Rasul Paulus.

Dengan menyebut Paulus sebagai pendusta maka Einseman mempertentangkan Kekristenan yang Paulinis dengan Kekristenan Yahudi di Yerusalem. Walaupun ada kemiripan yang ditemukan mengenai komunitas Qumran dengan Kekristenan, semua teori yang disebut di atas terus berubah. Kalau di awal-awal penemuan naskah ini sosok Guru tergolong cukup misterius, kini menjadi tidak lagi setelah data-data semakin lengkap direkontruksi. Memang, istilah-istilah Eseni, Oseni, Natsorea, Ebiyonim, Notsrim, Hasidim, Zaddikim tampak sebagai variasi-variasi atas tema yang satu dan sama. Istilah Eseni, misalnya, berasal dari kata “osei hattorah” (mereka yang melakukan Torah). Jadi, meskipun nama-nama itu berkaitan, tetapi semua menunjuk kepada latar belakang warisan spiritual bersama. Artinya, sangat gegabah untuk waktu sekarang mencari asal-usul istilah Perjanjian Baru dari Qumran, sebab istilah itu berakar dari pengharapan Yudaisme pada umumnya (bnd. Yeremia 31). Juga, mengasalkan tema Injil Yohanes tentang “terang dan gelap” dari salah satu naskah Qumran (1QM) berjudul Milkamah (Perang). Naskah ini memuat “Peperangan anak-anak Terang dan anak-anak Kegelapan”. Sebab tema gelap dan terang adalah tema umum Yudaisme, dan lagi dalam pandangan Qumran peperangan itu bersifat abadi. Sedangkan dalam Injil Yohanes: “Terang itu bercahaya dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:5).

Jadi, terlalu pagi untuk meyimpulkan bahwa asal Kekristenan dari kaum Eseni di Qumran. Apalagi untuk menyimpulkan bahwa Guru Kebenaran itu Yesus sendiri, suatu kesimpulan yang dilakukan oleh 2 penulis Islam yang “tidak berasal dari kalangan ahli”. Berdasarkan atas 2 penelitian orang lain yang belum final, 2 penulis ini: O. Hasyem, Tantangan Dari Qumran, dan Saleh A. Nahdi, Nafiri Maut dari Lembah Qumran, dengan identifikasi Yesus sebagai Guru Kebenaran bahwa mereka menghukum ajaran Kristen sebagai pemalsuan kemudian dari ajaran Yesus yang asli. Alasannya, antara ajaran Guru Kebenaran dan Yesus memang berbeda. Misalnya, Yesus mengaku diri Mesias, sedangkan Guru Kebenaran justru menantikan kedatangan Mesias.

Padahal perbedaan itu memang jelas, sebab masa hidup Guru Kebenaran itu memang sebelum zaman Kristus. Jean Danielou, dalam The Dead Sea Scrolls and Primitive Christianity menulis bahwa Guru Kebenaran sudah wafat pada tahun 50 SM. Lebih-lebih, penemuan terakhir dari The Dead Sea Scrolls. Menurut penelitian O’Chalagan, ternyata salah satu naskah berbahasa Yunani yang ditemukan di Gua 7 adalah serpihan fragmen Injil Markus 6:52-53 dan 1 Timotius 3:16, 4:3.12) Bukti baru ini menunjukkan bahwa teori selama ini yang menentukan penulisan Injil Markus setelah tahun 60 akan gugur. Sebab menurut kesaksian sejarahwan Yahudi, Flavius Yosepus dalam Antiquities of The Jews, bahwa komunitas Qumran berakhir akibat serangan militer Roma pada tahun 68 Masehi.

Jadi, karena Injil ini sudah ada di Qumran, kemungkinan dibawa oleh
orang-orang Kristen yang mengungsi setelah pecah perang Yahudi tahun 66 M, maka Injil harus ditulis pada masa yang lebih awal lagi. Bahkan ditemukannya fragmen Surat Paulus di Qumran, jelas telah menggugurkan teori pertentangan Yakobus dan Paulus sebagaimana dikemukakan di atas.

Part 3

DIMANAKAH YESUS KETIKA BERUSIA 12-30 TAHUN?

Dari deskripsi tersebut di atas, jelas bahwa semua teori yang mencari-cari “the silent period” Yesus itu, akan tinggal sebagai spekulasi cerdik belaka. Bahkan teori-teori seperti itu sebenarnya tidak akan mucul apabila kita memahami dengan baik kebudayaan dan agama Yahudi, yang menjadi latarbelakang kehidupan Yesus, “yang lahir dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat” (Galatia 4:4).

Mengapa Yesus hanya ditampilkan hanya kelahiran-Nya, usia 12 tahun dan baru ditulis lagi setelah berusia 30 tahun? Dari perspektif Yahudi, hal itu bukan hal yang aneh, sebab menurut budaya Yahudi seorang laki-laki baru boleh mengajar di depan umum pada usia 30 tahun.

Menurut hukum Yahudi, usia seorang anak digolongkan dalam 8 tahapan:

  1. Yeled, “usia bayi”;
  2. Yonek, “usia menyusu”;
  3. Olel, “lebih tua lagi dari menyusu”;
  4. Gemul, “usia disapih”;
  5. Taph, “usia mulai berjalan”;
  6. Ulem, “anak-anak”;
  7. Na’ar, “mulai tumbuh remaja”; dan
  8. Bahar, “usia remaja”.

Dari catatan tentang kehidupan Yesus dalam Injil, kita hanya membaca tiga klasifikasi usia saja yang dimuat, yaitu bayi (yeled), usia disapih (gemul), ketika ia diserahkan di Bait Allah di hadapan Simeon dan Anna, dan remaja (bahar, 12 tahun) ketika Yesus diajak Mar Yusuf dan Sayidatina Maryam, kedua orang tuanya, ke Yerusalem.

Mengapa Yesus muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting, karena seorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut Bar Mitzvah (anak Hukum).

Menurut legenda Yahudi, pada usia 12 tahun Nabi Musa meninggalkan rumah putri Firaun, Samuel menerima suara yang berisi visi Ilahi, Salomo (Nabi Sulaiman) mulai menerima Hikmat Allah dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem. Dalam rangkaian ritus Yahudi itu Yesus harus melakukan ‘aliyah (naik) dan Bemah (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat). Upacara ini dilakukan pada hari Sabat, karena itu disebut juga thepilin Shabat. Sejak abad-abad Pertengahan, usia Bar Mitzvah dilakukan pada usia 13 tahun. Menurut literatur Yahudi abad pertengahan Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruah (roh hikmat) dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya nishama (reasonable soul, “jiwa akali”).

Mulai usia 20 tahun tersebut seseorang harus memasuki sekolah khusus Yahudi (Bet Midrash). Sedangkan tahapan-tahapan pendidikan Yahudi adalah sebagai berikut: Mikra (membaca Taurat) mulai usia 5 tahun, Mishna mulai usia 10 tahun, Talmud pada usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun); Midrash pada usia 20 tahun, dan sejak usia 30 tahun baru boleh mengajar di depan umum.

PENUTUP

Dari tahapan-tahapan pendidikan Yahudi pada zaman Yesus serta latar belakang agama dan budayanya, jelas bahwa spekulasi-spekulasi mengenai 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang, sama sekali tidak mempunyai landasan sejarah. Jadi, kemana Yesus selama 12 tahun sampai 30? Jawabannya, berdasarkan data-data Injil sendiri (Matius 13:55; Markus 6:3), Yesus menjalani kehidupan sebagaimana layaknya anak-anak Yahudi dan ia bersama keluarganya bekerja di Nazaret sebagai tukang kayu.

Mengapa kisah kehidupan-Nya baru dicatat setelah usia 30 tahun? Karena memang demikianlah lazimnya kehidupan orang Yahudi, sedangkan usia 12 tahun juga disinggung karena sebagai usia Bar Mitzvah. Maka adanya spekulasi-spekulasi Yesus sampai di India untuk belajar yoga bersama guru-guru dari Timur jauh, adalah fiksi yang hanya menarik didengar, ketimbang dibuktikan secara historis.

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress